CeritaKu

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hari ini saya tidak sedang menulis solusi pemecahan masalah didistro linux. Tapi saya mau berbagi cerita tentang pengalaman pribadi dengan sistem operasi yang power full ini yaitu  GNU/Linux.

Pertama kenal dengan Linux itu sekitar 2011, dikenalkan sama adik sepupu teman  saya yang notabene seorang anak SMK jurusan TKJ. Saya waktu itu baru saja beli laptop baru dengan sistem operasi Windows 7 ultimate(jelas bajakan). Sebenarnya saya orang yang sangat baru didunia komputer, benar – benar gak tau apa – apa soal komputer. Menyimpan data saja, saya simpan diMyDocument (masih windows). Pokoknya maksimal pake komputer itu cuman buat denger musik dan nonton film. Karena saya mau bisa menggunakan komputer, akhirnya saya kursus. Waktu itu kursus aplikasi perkantoran modern, paketnya word,excel, power point, dan internet. Setelah kursus, sudah mulai bisa pake komputer. Tapi, belum puas karena kalau komputer saya kena virus pasti mau install ulang. Virus jadi momok yang menakutkan saya waktu itu. Bayangkan waktu itu install ulang lengkap software sampai 100 ribu kalau kita kenal sama orangnya. Kalau tidak, yah diatasnya. Akhirnya adik sepupu teman saya tadi (yang sebenarnya teman saya juga) memperkenalkan Ubuntu. Dia menceritakan kehebatan Linux, saya dengan serius mendengarkan. Apalagi waktu dia bilang Linux punya efek “api – api”, saya jadi membayangkan komputer dengan kekuatan super :D.

Singkat cerita, saya akhirnya kursus teknisi komputer yang khusus untuk penanganan software saja. Disitulah saya benar – benar install Ubuntu 11.10. Paradigma saya selama belum lihat langsung Linux, saya cuman berfikir Linux itu seperti command prompt diwindows. Ternyata paradigma saya salah, karena teman berikutnya yang memperkenalkan Linux berikutnya bilang,”Ini sudah tahun 2011, Linux sudah tidak lagi seperti itu”.Akhirnya saya minta masternya yang waktu itu saya install masih menggunakan wubi. Saya tertawa karena ternyata gampang menggunakan Linux apalagi dapat diinstall seperti menginstall software lainnya diwindows. Saya akhirnya menggunakan Ubuntu Linux “berdampingan” dengan Windows 7 ultimate. Saya tidak tahu harus bagaimana dengan Ubuntu, saya juga belum kenal banyak orang dilingkungan komputer waktu itu. Jadi, saya menggunakan Ubuntu hanya untuk browsing karena temanku pernah bilang,”pake Linux itu aman dan cepat kalau browsing“. Akhirnya karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan Ubuntu, saya akhirnya berhenti menggunakannya.

Tahun keemasan 2013

Ditahun 2013 saat itu dikampus ada seminar Ubuntu 13.04 release party. Disinilah akhirnya saya lebih mengenal lingkungan Linux dan opensource. Alhamdulillah saya punya kesempatan untuk ikut dan pematerinya pun master. Saya dengan serius mendengarkan penjelasan fundamental linux sampai sebuah doktrin dari pemateri masuk keakal saya yang berbunyi,“Mencuri boleh gak dalam agama? Membajak boleh gak dalam agama? Membuat program menggunakan software bajakan kemudian dijual dan hasilnya dimakan anak istri bagaimana hukumnya dalam agama?” dalam hati menjadi dilema karena menggunakan windows saat itu masih perlu karena alasan perkuliahan. Namun, akhirnya saya beranikan diri dual booting dengan windows dan mulai saat itu saya tidak berhenti belajar menggunakan linux.

Alhamdulillah tahun 2014 saya beranikan diri pakai single booting sampai sekarang dan belajar programming dilinux jauh membuat saya lebih mengerti dibandingkan waktu menggunakan windows. Awal belajar Linux saya sangat bingung ketika menemukan error. Bukan karena Linuxnya sebenarnya, tapi karena belum tahu saja. Saya akhirnya banyak bertanya kegrup facebook Ubuntu Makassar alhamdulillah banyak bantuan yang saya dapat disana. Alhamdulillah akhirnya sampai saat saya menulis diblog ini saya masih menggunakan Linux. Beberapa distro Linux pun pernah saya coba diantaranya Ubuntu,Linuxmint,Manjaro dan sekarang openSUSE tumbleweed.

GNU/Linux diRifdha fotocopy dan teman – teman sekelas

Setelah saya menggunakan Linux, saya mulai berkampanye dilingkungan saya. Mulai dari teman sekelas saya pengaruhi untuk menggunakan Ubuntu Linux sampai ketempat fotocopy. Memperkenalkan GNU/Linux dilingkungan orang komputer jauh lebih mudah daripada orang umum. Namun, sekali lagi paradigma saya salah. Buktinya waktu itu tempat fotocopy dan rental print yang selalu menggunakan jasa saya untuk memperbaiki komputernya dan ternyata langsung mengiyakan saja. Saya nekat menawarkan kepemilik usahanya langsung karena saya sudah capek setiap bulan harus datang untuk mengatasi masalah komputernya yang suka hang karena virus. Lagipula, kita harus punya strategi untuk mengajak secara baik pengguna bajakan untuk bermigrasi. Sulit dipercaya kalau pemilik usaha Rifdha fotocopy langsung mau saja untuk diinstallkan Ubuntu Linux dikomputernya. Saya cuman bilang keoperatornya kalau cara pakainya sama seperti android saya perlihatkan software center dan padanan aplikasi windows dan saya tekankan bahwa aplikasi diwindows, tidak dapat digunakan diUbuntu Linux. Saya berikan saja ebook untuk libreoffice,GIMP, dan inkscape. Alhamdulillah sampai saya menulis cerita ini, pemilik usaha tidak pernah lagi bermasalah dengan virus dan tentunya, hasil pengetikan yang didapatkan insha allah berkah.

Demikian sebuah cerita pribadi saya tentang perkenalan Saya dengan GNU/Linux.

Assalamu’alaikum